Padang Penggembalaan Untuk Ternak Kambing


Pendahuluan

Di wilayah pedesaan terutama  pada agroekosistem lahan kering dataran rendah, intensitas usaha pertaniannya sangat rendah karena sangat tergantung pada air  hujan.  Sebagian besar lahan tidak termanfaatkan untuk tanaman pangan sehingga lahan-lahan ini ditumbuhi oleh rumput alam dan berbagai jenis tanaman perdu.   Lokasi  seperti  ini menjadi tumpuan sumber hijauan pakan bagi ternak-ternak yang dimiliki oleh petani atau peternak, terutama bagi mereka yang tidak memiliki lahan khusus untuk menanam hijauan.

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang berkembang pada daerah yang relatif kering.  Tingkat produktivitas ternak kambing bisa dikatakan cukup baik, dengan sistem pemeliharaan ekstensif  (digembalakan),  masih mampu berproduksi dengan baik, dapat beranak 3 kali dalam  setahun.  Hasil pengamatan Sasongko dkk., (2004), bahwa peningkatan rata-rata bobot badan kambing lokal maupun keturunan PE yang dipelihara secara ekstensif dan semi intensif berkisar 1 – 2,4 kg/bulan atau  0,03 – 0,08 kg/hari.

Berdasarkan pengalaman beberapa peternak kambing, bahwa pemeliharaan secara ekstensif dirasakan lebih mudah penanganannya jika jumlah ternaknya sudah semakin banyak.  Makin besar jumlah ternak maka akan semakin besar jumlah pakan yang harus disediakan peternak jika ternak dipelihara secara intensif di kandang, terkait dengan waktu yang diperlukan untuk mencari hijauan. Kambing memiliki sifat yang cukup selektif dalam memilih hijauan yang akan dikonsumsinya, dan ini terkait dengan potensi produksinya.  Jika hijauan yang dimakan memiliki kandungan nutrisi sesuai kebutuhan ternak maka ternak dapat berproduksi secara optimal. Kambing-kambing yang digembalakan memiliki peluang untuk melakukan seleksi terhadap makanannya.  Bagi wilayah-wilayah dengan lahan marginal yang tidak dimanfaatkan untuk tanaman pertanian, dapat dimanfaatkan sebagai padang gembala yang bisa mendukung pengembangan usaha ternak kambing.

 

Padang Gembala

 

 

 

 

Menurut Cullison (1975) disitasi oleh Reksohadiprodjo, (1985), bahwa padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang dapat menyenggutnya (memakannya) sesuai kebutuhannya dalam waktu singkat. Selanjutnya dikatakan oleh Moore, (1964) yang disitasi oleh Reksohadiprodjo, (1985)  bahwa padang penggembalaan alam terdiri dari tanaman dominan yang ditumbuhi rumput perenial, sedikit atau tak ada sama sekali belukar (gulma) atau weed, tidak ada pohon. Sering  dikatakan bahwa padang penggembalaan permanen karena tidak ada campur tangan manusia terhadap susunan floranya.  Manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan.  Ternak hidup berpindah-pindah secara nomad mengikuti pemiliknya.

Merencanakan suatu padang penggembalaan sebaiknya dilakukan dengan mengukur dan mengetahui potensi alaminya terlebih dahulu sebelum melakukan improvisasi dengan mengintroduksi beberapa jenis tanaman hijauan makanan ternak unggul.  Demikian juga perlu diketahui produktivitas padang alami yang umum terdapat di wilayah NTB, dan berdasarkan informasi dari penelitian-penelitian terdahulu.  Dalam menyusun suatu rencana pengembangan padang gembala tentu dibutuhkan banyak informasi yang saling terkait seperti sumberdaya alamnya, termasuk iklim, curah hujan, kesuburan tanah serta vegetasi yang tumbuh dan menjadi sumber pakan ternak.  Selanjutnya informasi mengenai jenis ternak yang akan digembalakan, komposisi umur dan jenis kelamin, bobot badan dan sebagainya.  Setiap jenis ternak memiliki karakteristik yang berbeda, memilki tingkah laku makan yang berbeda sehingga menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis hijauan yang akan diintroduksikan.

 

 

 

Padang penggembalaan yang terdapat pada agroekosistem lahan kering  umumnya memiliki kondisi yang hampir sama, dengan komposisi rumput dan tanaman perdu (weed) hampir seimbang (masing-masing 50%).  Rumput-rumput yang tumbuh adalah rumput perenial yang dapat tumbuh sepanjang tahun.  Sebagian tumbuh tegak dan sebagian lagi merambat dengan produktivitas yang relatif rendah.  Diperkirakan ternak hanya mampu memakan sekitar 1 – 3 cm dari ujung daun.  Ternak akan memilih daun yang masih utuh,  bila masih memungkinkan memakan tanaman perdu yang tumbuh.

Keragaman dalam Konsumsi Bahan Kering (KBK) kambing dewasa di daerah tropis merupakan hal yang menarik untuk dikaji.  Kambing lokal di daerah tropis yang diberi makan sekenyangnya mempunyai KBK harian dalam kisaran  1,8 – 4,7% dari berat badannya.  Sedangkan kambing yang diberi ransum pokok hidup dan bawah pokok hidup mempunyai KBK yang rendah, yaitu 1,4 – 1,7 % dari berat badan (Devendra dan Marca, 1994).

 

Kebiasaan Makan Pada Ternak Kambing

Kambing mempunyai kebiasaan makan yang khusus karena lidahnya yang cekatan, kambing dapat merumput rumput-rumputan yang sangat pendek dan makan daun pohon-pohonan atau semak-semak (to browse foliage) yang biasanya tidak dimakan oleh ternak ruminansia lain.  Kebiasaan makan ternak kambing yang serba ingin mengetahui rasa makanan yang baru memungkinkan kambing menyukai banyak macam makanan, terutama makanan dengan kandungan serat tinggi. Kambing dapat memanfaatkan nutrisi yang terkandung dalam makanan jauh lebih baik daripada kebanyakan ternak ruminansia lain (Willamson dan A. J. Pane, 1993).

Menurut Devendra dan Marca (1994), kambing menyukai pakan beragam, dan mereka dikatakan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus menerus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu lama; mereka lebih suka memilih hijauan pakan dari berbagai jenis, seperti campuran rerumputan dengan legum yang biasanya berupa tanaman semak belukar atau daun-daun pohon.

Pada sistem penggembalaan bebas, ternak dilepas untuk mencari makan di padang rumput alam yang kurang terkontrol sehingga dapat menyebabkan terjadinya under grazing (kelebihan rumput yang tersedia) maupun over grazing (penggembalaan yang berlebihan).  Overgrazing berakibat pada musnahnya spesies-spesies rumput alam yang disenangi ternak (palatable) dan bernilai nutrisi baik yang kemudian digantikan dengan jenis rumput yang berkualitas kurang baik dan berumur pendek.

 

Tanaman  Unggul yang diintroduksi Pada Padangan

Peningkatan  atau renovasi padang rumput tropis  harus melalui pendekatan  dari dua arah; manajemen  penggembalaan   harus dipertimbangkan   dengan meningkatkan manajemen padang rumput.  Metode perbaikan padang rumput dilakukan pada Katherine Research di Northern Territory di Australia.  Beberapa jenis rumput dan legum ditambahkan sebagai penjembatan gap  musim kemarau selama enam bulan dalam setahun, saat ternak sapi mengalami penurunan berat badan,. Cenchrus cilliaris dan C. setigerus, yang di sebarkan sekitar kawasan pantai barat Australia,  terbukti dan telah berhasil dengan jenis rumput yang diperkenalkan yaitu campuran Cenchrus dengan Stylosanthes memberi hasil yang menjanjikan.  Bahan  kering yang dihasilkan adalah 5 ton per hektar per tahun atau dengan penambahan pupuk phospor dapat menghasilkan 17,5 – 20 ton perhektar.  Pertambahan bobot badan sapi dapat terjaga dari kehilangan bobot badan saat musim kemarau dengan pakan rumput alam (Mc Ilroy, 1972).

Diasumsikan bahwa bila padang gembala ditanami rumput dan legum unggul, tentu akan memiliki produktivitas hijauan yang lebih tinggi.  Dengan demikian tentunya dibutuhkan luasan lahan yang relatif lebih sempit. Atas dasar pertimbangan tersebut dicoba untuk melakukan perhitungan-perhitungan bila padang gembala ditanami oleh kombinasi antara rumput Cynodon dactylon, Centrosema pubescens (legume) dan Leucaena (lamtoro) sebagai tanaman pagar.

Pemilihan jenis-jenis hijauan ini adalah berdasarkan karakteristik ternak kambing lokal dan juga berdasarkan pada sifat-sifatnya dan tingkah laku makannya yaitu memiliki kebiasaan merumput (grazing) dan meramban (browsing).  Disamping itu tentu hijauan yang terpilih memiliki kemampuan hidup dan berproduksi sesuai dengan kondisi lingkungan misalkan iklim, curah hujan dan kesuburan tanah.  Hampir semua kategori lingkungan tersebut adalah pada kondisi terbatas, iklim yang ekstrem panas, curah hujan rendah serta kesuburan tanah kurang subur

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

2014beats.com.html
beatsbydre2014.org.html
beatscolor.com.html
beatscompany.com.html
beatsfan.com.html
beatsprostore.com.html